Flat Earth Community

GLOBE TIDAK MEMILIKI MODEL

Oktober 2, 2025 | by Irman Ahmad

New-Project16-1536×622

Interaksi antara model teoretis dan model fisik dalam penyelidikan ilmiah

Hubungan antara model teoretis dan model fisik dalam penelitian ilmiah lebih kompleks dan multifaset daripada yang umumnya dipahami. Contoh utama dari kerumitan ini adalah model bola bumi, yang meskipun diwakili oleh bola dan peta, tidak dapat direplikasi secara akurat sebagai model fisik berskala yang menggambarkan semua fenomena yang diamati. Secara spesifik, tidak mungkin membangun model fisik yang secara akurat menggambarkan hubungan sudut antara lokasi pengamat dan posisi Matahari pada berbagai derajat elevasi, sambil tetap mempertahankan skala, rotasi, dan mekanika orbit model tersebut.

Batasan ini tidak unik bagi model bola dunia, melainkan berlaku untuk banyak konsep ilmiah fundamental. Mekanika kuantum, misalnya, memberikan prediksi yang sangat akurat mengenai perilaku partikel, namun tidak mungkin untuk memodelkan secara fisik superposisi kuantum atau entanglement. Alih-alih, para peneliti mengandalkan kerangka matematis dan pengamatan tidak langsung untuk memvalidasi teori-teori ini.

Refraksi Kubah mengikuti pola yang serupa. Meskipun model fisik berskala penuh tidak dapat dibangun, prinsip-prinsip dasarnya dapat diverifikasi melalui demonstrasi berskala kecil dan konsistensi matematis. Pendekatan ini mirip dengan cara ilmuwan menangani konsep fisika berskala besar lainnya, di mana komponen teori diverifikasi melalui eksperimen berskala kecil dan bukti matematis, lalu diperluas ke skala yang lebih besar melalui kerja teoretis yang teliti.

Metodologi ini mirip dengan pemahaman kita tentang gerak planet. Meskipun tidak mungkin menciptakan model fisik sempurna dari sistem tata surya yang secara akurat menggambarkan setiap fenomena yang diamati, model tersebut tetap diterima karena memberikan prediksi matematis yang konsisten dan sesuai dengan pengamatan. Prinsip yang sama berlaku untuk kubah GRIN, di mana kerangka matematis memberikan prediksi yang konsisten dan sesuai dengan fenomena yang diamati, meskipun tidak mungkin melakukan pemodelan fisik skala penuh.

Sangat penting untuk menyadari bahwa model fisik berfungsi utama sebagai alat pedagogis dan representasi, bukan sebagai bukti konsep. Validasi sejati suatu teori ilmiah terletak pada konsistensi matematis dan daya prediksinya. Pemahaman ini memungkinkan peneliti untuk bekerja dengan percaya diri menggunakan model teoretis yang melampaui kemampuan pemodelan fisik mereka, karena nilai model-model ini terletak pada kemampuannya untuk menjelaskan dan memprediksi pengamatan, bukan pada kemampuannya untuk direplikasi dalam skala miniatur.

Pada akhirnya, interaksi antara model teoretis dan fisik dalam penyelidikan ilmiah menyoroti sifat kompleks dan multifaset dari penelitian ilmiah. Dengan mengakui batasan model fisik dan menekankan pentingnya konsistensi matematis dan daya prediksi, para peneliti dapat terus mengembangkan pemahaman kita tentang dunia, bahkan di hadapan tantangan pemodelan fisik yang tampaknya tak teratasi.

Disadur dari tulisan Dr. Steven Alonzo B.Sc in Geocentric Cosmology yang berjudul ” The Globe has no Model. The Interplay between Theoretical and Physical Models in Scientific Inquiry

RELATED POSTS

View all

view all