Pengukuran Trigonometri dan Parallaks untuk Jarak Bulan : Mengungkap Ketidakkonsistenan Model Bumi Bulat
Oktober 3, 2025 | by Irman Ahmad
Author: Steven Alonzo, B.Sc. in Geocentric Cosmology
Published: April 29th, 2024
Accepted: April 14th, 2024
DOI: 10.7434/j.gcosmog.2024.04.001
Abstrak
Penelitian ini mengevaluasi kelayakan menentukan jarak Bulan dari Bumi menggunakan metode trigonometri dan parallaks, dengan menggunakan sudut pengamatan nyata dan jarak dasar yang umum digunakan dalam pengukuran berbasis Bumi. Hasil penelitian menyoroti presisi ekstrem yang diperlukan dalam pengukuran sudut, sehingga metode ini tidak praktis untuk perhitungan jarak Bulan yang akurat tanpa bantuan teknologi canggih.

Pengantar
Pengukuran jarak langit secara akurat merupakan tantangan fundamental dalam astronomi. Meskipun metode trigonometri dan paralaks secara teoritis valid, penerapan metode tersebut pada pengukuran jarak bulan menggunakan pengamatan berbasis Bumi konvensional ternyata sangat problematis karena persyaratan presisi yang tinggi dalam pengukuran sudut.
Metode
Metode Trigonometri : Menghitung jarak bulan dengan membentuk segitiga yang memiliki garis dasar antara dua pengamat dan Bulan, serta mengukur sudut di masing-masing lokasi pengamat.
Metode Paralaks : Menentukan jarak berdasarkan pergeseran sudut tampak Bulan yang diamati dari dua titik berbeda di Bumi.
Data Pengamatan
Jarak dasar yang digunakan untuk pengamatan adalah 4746 km, dan sudut awal yang diukur adalah:
Sudut 1: 50°
Sudut 2: 80°
Sudut-sudut ini menghasilkan:
Jarak Trigonometri: 4673,90 km
Jarak Parallaks: 17712,31 km
Untuk mencocokkan jarak bulan yang secara resmi diterima sebesar 384.000 km:
Sudut yang Diperlukan Metode Paralaks:
Sudut 1: 5,82°
Sudut 2: 4,40°
Sudut yang Diperlukan Metode Trigonometri:
Sudut 1: 90,35°
Sudut 2: 88,94°
Hasil dan Analisis
Perbedaan antara sudut yang digunakan dalam pengamatan nyata dan sudut yang diperlukan untuk secara akurat mencerminkan jarak Bulan menunjukkan ketidakmungkinan metode-metode ini untuk pengukuran yang presisi. Metode trigonometri, khususnya, memerlukan sudut yang hampir tegak lurus relatif terhadap garis dasar, yang tidak praktis untuk dicapai secara konsisten dengan akurasi.
Kesimpulan
Temuan ini menegaskan bahwa metode trigonometri dan paralaks konvensional, meskipun secara teoritis valid, tidak praktis untuk pengukuran jarak Bulan yang presisi karena sensitivitas ekstrem terhadap akurasi sudut. Sebaliknya, metode modern seperti pengukuran laser dan radar, yang tidak bergantung pada pengukuran sudut yang presisi, diperlukan untuk mencapai penentuan jarak langit yang andal dan akurat.
Rekomendasi
Penelitian lebih lanjut sebaiknya difokuskan pada peningkatan akurasi alat pengukur sudut jika metode ini akan digunakan dalam situasi praktis, atau sebagai alternatif, memprioritaskan pengembangan dan penerapan teknologi pengukuran jarak yang lebih andal.
Disadur dari tulisan Dr. Steven Alonzo B.Sc in Geocentric Cosmology yang berjudul ” Trigonometric and Parallax Measurements for Lunar Distances: Exposing Globe Earth Model Inconsistencies “
RELATED POSTS
View all